Pentingnya Kesimbangan Akademis, Kemampuan, dan Karakter Untuk Mahasiswa

  Universitas adalah suatu tempat pembelajaran bagi para mahasiswa. Universitas seharusnya menjadi sebuah tempat pengembangan bakat dan juga pembinaan karakter untuk mahasiswa. Bukan hanya menjadi tempat yang mempelajari teori-teori dimana tujuan akhirnya adalah hanya untuk mendapatkan IP yang tinggi. IP penting namun bukan berarti dia segalanya. Sungguh sangat disayangkan apabila mahasiswa hanya dituntut mencari IP. Alhasil pada waktu ujian kecurangan-kecurangan itu timbul. Menyontek, membuka buku, dan sebagainya merupakan hal yang lumrah dilihat pada waktu ujian. Teguran dosen pun hanya dianggap angin lalu bagi mahasiswa. Pikiran mereka hanya satu bagaimana mendapatkan nilai bagus. Karena dengan nilai bagus, IP mereka bagus, diterima kerja pun mudah. Yup hasilnya bisa dilihat begitu banyak sarjana kita yang punya IP bagus tapi, kemampuan/karakter dibawah standar. Lucunya para dosen hanya menyalahkan mahasiswa nya tanpa mengkoreksi cara pengajarannya. Dan para mahasiswanya hanya menyalahkan dosennya tanpa mengkoreksi cara pembelajaran mereka.

  Universitas yang terbaik adalah bukan hanya mampu menonjolkan sisi akademis saja tapi, juga mampu menonjolkan sisi kemampuan dan karakter yang baik dari mahasiswanya. Begitu banyak contoh nyata universitas yang hanya menonjolkan sisi akademis mahasiswanya yang tinggi tanpa diimbangi sisi kemampuan dan karakter yang yang baik akhirnya alumni dari universitas tersebut malah terkena blacklist perusahaan. Sebaliknya ada juga universitas yang menghasilkan alumni-alumni yang mempunyai akademis dan kemampuan yang tinggi namun pada akhirnya malah terpenjara karena korupsi. Hanya kurangnya nilai karakter dalam diri mereka.

  Untuk itu diperlukan lah perombakan sistem dalam dunia universitas Indonesia. SKS yang begitu banyak perlu dikaji ulang lagi. Apakah betul menjadi kebutuhan mahasiswa atau tidak. Fokuslah dengan mata kuliah yang saling berhubungan dan yang ingin dituju. Pengubahan gaya belajar di kelas juga perlu dirubah. Terkadang tidak setiap mahasiswa senang duduk diam di kelas mendengarkan dosen bicara. Namun mereka terkadang merasa sungkan membicarakannya. Alhasil cara ributlah dipilih mereka untuk mengungkapkan isi hati mereka. Ubahlah dengan cara praktek atau terjun langsung di lapangan untuk membuktikan teori. Ajarkan untuk memiliki bukan untuk dimiliki. Alangkah baiknya apabila adanya dati psikologi mahasiswa yang dapat diujikan pada waktu tes masuk kuliah.

  Aktifkan lah UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di universitas untuk melatih softskill mahasiswa. Adanya pembina untuk UKM bukan hanya sekedar nama tapi, juga merupakan sorang pembina untuk menunjukkan jalan apabila UKM tersebut mengalami kesulitan atau kebingungan dengan birokrasi.

  Adakanlah sistem mentoring agama-agama untuk melatih karakter mahasiswa. Karena pada umumnya agama berhubungan dengan karakter. Mentoring ini dapat diikuti oleh 5-10 orang dalam 1 kelompok. Pembinanya dapat berhubungan dengan dosen atau pengisi yang kompeten. Bukan hanya asal pengisi. Tentunya materi yang dibuat oleh dosen atau pengisi harus disetorkan ke birokrasi untuk controlling kemanfaatan mentoring. Diusahakan untuk sistem mentoring per agama perlu adanya terjun langsung ke masyarakat untuk melihat keadaan masyarakat. Namun yang perlu diingat adalah mentoring berbeda dengan pelajaran agama.

  Dengan adanya keseimbangan akademis, kemampuan, dan karakter maka diharapkan SDM Indonesia mampu bersaing dan punya nilai tambah sendiri pada waktu bersaing dengan SDM luar negeri.

  Itu menurut saya. Bagaimana menurut anda ?

Leave a Reply